Senin, 04 Juni 2012

WONG CIREBON

Orang Cirebon atau Suku Cirebon adalah kelompok Etnis yang tersebar disekitar Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon,Kabupaten Indramayu,Kabupaten Majalengka sebelah utara atau disebut sebagai Wilayah''Pakaleran'',Kabupateb Kuningan sebelah utara,Kabupaten Subang sebelah Utara mulai dari Blanakan,Pamanukan,hingga Pusakanagara dan sebelah pesisir utara Kabupaten Karawang  Pedes hingga pesisir Cilamaya di Provinsi Jawa Barat dan sekitar Kec.Losari di Kabupaten Brebes,Provinsi Jawa Tengah,berjumlah sekitar 1,9jt,kebanyakan orang Cirebon memeluk agama Islam.Bahasa yang dituturkan oleh orang Cirebon adalah gabungan dari Bahasa Jawa,Sunda,Arab dan Cina yang mereka sebut sebagai Bahasa Cirebon.

Pengakuan Suku Tersendiri

Pada mulanya keberadaan Suku atau Orang Cirebon selalu dikaitkan dengan keberadaan Suku Sunda dan Jawa,namun kemudian eksestensinya mengarah pada pembentukan budaya tersendiri,mulai dari ragam batik pesisir yang tidak terlalu mengikuti pakem Keraton Jawa atau biasa disebut batik pedalaman hingga timbulnya tradisi-tradisi bercorak Islam sesuai dengan dibangunnya Keraton Cirebon pada abad ke 15 yang berlandaskan Islam 100%,eksistensi dari keberadaan suku atau orang Cirebon yang menyebut dirinya bukan Suku Sunda ataupun Suku Jawa,akhirnya mendapat jawaban dari sensus penduduk tahun 2010 dimana pada sensus penduduk tersebut tersedia kolom khusus bagi Suku Cirebon,hal ini berarti keberadaan Suku Cirebon telah diakui secara Nasional sebagai sebuah Suku tersendiri,menurut Erna Tresna Prihatin.

Indikator ini[Suku Cirebon]dilihat dari bahasa daerah yang digunakan Wong Cirebon tidak sama seperti bahasa Jawa atau Sunda.Masyarakat Cirebon juga punya identitas khusus yang membuat mereka merasa sebagai Suku Bangsa sendiri,penunjuk lainnya yang mencirikan seseorang sebagai Suku Cirebon adalah dari nama-namanya yang tidak seperti orang Jawa ataupun Sunda.Namun,belum ada penelitian lebih lanjut yang bisa menjelaskan tentang karakteristik identik tentang Suku Cirebon,untuk menelusuri kesukuan seseorang,hal itu bisa dilakukan dengan garis keturunan ayah kandung,selain itu jika orang itu sudah merasa memiliki Jiwa dan spirit daerah itu[daerah Suku Cirebon]maka dia berhak merasa sebagai suku yang dimaksud.

Bahasa

Dahulu bahasa Cirebon ini digunakan dalam perdagangan di pesisir Jawa Barat mulai Cirebon yang merupakan salah satu Pelabuhan utama,khususnya pada abad ke-15 sampai ke -17.Bahasa Cirebon dipengaruhi pula oleh budaya Sunda karena keberadaannya yang berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda,khususnya Sunda Kuningan dan Sunda Majalengka dan di[engaruhi oleh budaya China,Arab dan Eropa hal ini dibuktikan dengan adanya kata''TAOCANG[kancir]''yang merupakan serapan China,kata ''Bakda[setelah]'',yang merupakan serapan Bahasa Arab dan kemudian kata''Sonder[tanpa]''yang merupakan serapan bahasa Eropa[Belanda].Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa Jawa seperti kalimat-kalimat dan pengucapan,misalnya INGSUN[saya] dan SIRA[kamu]yang sudah tidak digunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.

Perdebatan tentang bahasa Cirebon sebagai sebuah bahasa yang mandiri terlepas dari bahasa Sunda dan Jawa telah menjadi perdebatan yang cukup panjang,serta melibatkan faktor Politik Pemerintahan,Budaya serta Ilmu kebahasaan.

Penelitian menggunakan kuesioner sebagai indikator pembanding kosakata anggota tubuh dan kata bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 75%,sementara perbedaannya dengan dialek di Jawa Timur mencapai 76%,untukdiakui sebagai sebuah bahasa tersendiri,suatu bahasa setidaknya membutuhkan sekitar 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya.

Meski kajian Linguistik sampai saat ini menyatakan Bahasa Cirebon''hanyalah''dialek[karena penelitian Guiter mengatakan harus berbeda sebanyak 80% dari bahasa terdekatnya],namun sampai saat ini Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat nomor 5 Tahun 2003 masih tetap mengakui Cirebon sebagai bahasa dan bukan sebagai sebuah dialek.Dengan kata lain,belum ada revisi terhadap Perda tersebut.Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung Muh.Abdul Khak,hal itu sah-sah saja karena perda adalah kajian politik.Dalam dunia kebahasaan menurut dia,satu bahasa bisa diakui atas dasar tiga hal,pertama,bahasa atas dasar pengakuan oleh penuturnya,kedua atas dasar politik dan ketiga atas dasar Linguistik.

Bahasa atas dasar politik,contoh lainnya bisa dilihat dari sejarah bahasa Indonesia,bahasa Indonesia yang sebenarnya berakar dari bahasa Melayu,seharusnya dinamakan bahasa Melayu dialek Indonesia.Namun atas dasar kepentingan politik,akhirnya bahasa Melayu yang berkembang di negara Indonesia,olej pemerintah Indonesia dinamakan dan diklaim bahasa Indonesia,selain alasan politik,pengakuan Cirebon sebagai bahasa juga bisa ditinjau dari batasan wilayah geografis dalam Perda itu,Abdul Khak mengatakan,Cirebon disebut sebagai dialek jika dilihat secara Nasional dengan melibatkan bahasa Jawa.

Artinya ketika Perda dibuat hanya dalam lingkup wilayah Jawa Barat,Cirebon tidak memiliki pembanding kuat yaitu bahasa Jawa,apalagi dibandingkan dengan bahasa Melayu Betawi dan Sunda,Cirebon memang berbeda.

Revisi Perda,sebenarnya memungkinkan dengan berbagai argumen Linguistik,namun kepentingan terbesar yang dipertimbangkan dari sisi politik bisa jadi adalah penutur bahasa Cirebon,yang tidak mau disebut orang Jawa maupun orang Sunda.Ketua lembaga Basa Ian Sastra Cirebon Nurdin M.Noer mengatakan,bahasa Cirebon adalah persilangan bahasa Jawa dan Sunda,meskipun dalam percakapan orang Cirebon masih bisa memahami sebagian bahasa Jawa,dia mengatakan kosakata bahasa Cirebon terus berkembang tidak hanya''mengandalkan''kosa kata dari bahasa Jawa maupun Sunda.''selain itu bahasa Cirebon sudah punya banyak dialek,contohnya dialek Plered,Jaware,dan Dermayon,''ujarnya.Jika akan dilakukan revisi atas Perda tadi,kemungkinan besar masyarakat bahasa Cirebon Kn memprotes.

Pakar Linguistik Chaedar Al Wasilah pun menilai,dengan melihat kondisi penutur yang demikian kuat,revisi tidak harus dilakukan,justru perlu dilakukan adalah melindungi bahasa Cirebon dari kepunahan.

KOSA KATA

Sebagian besar kosa kata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar[Surakarta,Yogyakarta] baik secara morfologi maupun fonetik.Memang bahasa Cirebon yang dipergunakan di Cirebon dengan di Indramayu itu meskipun termasuk bahasa Jawa,mempunyai perbedaan cukup besar dengan ''bahasa  jawa baku'',yaitu bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah yang berpegang kepada bahasa Jawa Solo.Dengan demikian,sebelum 1970-an,buku-buku pelajaran dari Solo tak dapat digunakan karena terlalu sukar bagi para murid[dan mungkin juga gurunya].Oleh karena itu,pada tahun 1970-an,buku pelajaran itu diganti dengan buku pelajaran bahasa Sunda yang dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda''lebih dekat''.Akan tetapi,ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan diwilayahnya,yaitu
Bahasa Jawa dialek Cirebon.Namun penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa daerah yang terjadi tahun selanjutnya tidal mencantumkan kata''bahasa Jawa dialek Cirebon''lagi,akan tetapi hanya menggunakan kata''bahasa Cirebon''hal ini seperti yang telah dilakukan pada penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa Cirebon pada tahun 2001-2002.''Kamus Bahasa Cirebon''yang ditulis oleh Almarhum Bapak Sudjana sudah tidak mencantumkan kata''Bahasa Jawa dialek Cirebon''namun hanya''Kamus Bahasa Cirebon''begitu juga penerbitan''Wyakarana-Tata Bahasa Cirebon''pada tahun 2002 yang tidak menunjukan lagi keberadaan Bahasa Cirebon sebagai bagian dari bahasa Jawa,namun menunjukkan eksistensi Bahasa Cirebon sebagai bahasa yang mandiri.

Macam Bahasa dialek Cirebon

-Bahasa Cirebon dialek Jawareh[jawa sawareh]
-Bahasa Cirebon dialek Dermayon
-Bahasa Cirebon dialek Plered
-Bahasa Cirebon dialek Gegesik

Hubungan dengan Kebudayaan Sunda

Hungungan dengan Suku atau Kebudayaan Sunda ditandai dengan adanya Keraton Cirebon sebagai sebuah bentuk eksistensi adanya Suku Cirebon,dimana pendiri Keraton Cirebon yaitu Raden Walangsungsang dan Nyai Rara Santang serta Pangeran Surya yang merupakan Kuwu di Kaliwedi masih keturunan Kerajaan Pajajaran yang merupakan Kerajaan Sunda namun dalam perkembangan selanjutnya Keraton Cirebon yang merupakan eksistensi keberadaan Suku Cirebon memilih jalannya sendiri yang kebanyakan bercorak Islam.

Hubungan dengan Kebudayaan Jawa

Dalam kaitannya dengan kebudayaan Jawa,keberadaan Bahasa Cirebon selalu dikaitkan dengan Bahasa Jawa dikarenakan adanya Tata Bahasa Cirebon yang  mirio dengan Tata bahasa Jawa,serta adanya beberapa kata dalam bahasa Cirebon yang juga memiliki RTI SAMA DALAM bAHASA jAWA.''iSUN AREP LUNGA SING UMAH''

Kalimat dalam bahasa Cirebon di atas berarti''saya mau pergi dari rumah''dimana jika dialihkan dalam bahasa Jawa kata ini menjadi''aku arep lungo sing umah''sehingga didapatkan kata yang hampir serupa akan tetapi ragam kalimat dalam bahasa Cirebon tidak hanya terbatas dari serapan Bahasa Jawa,perhatikan ragam dialek bahasa Cirebon berikut''ari khaul mulae bakda magrib mah punten,isun beli bisa teka,ana janji sih karo adhine''.

Dalam kalimat diatas ditemukan kata''ari''yang merupakan serapan dari bahasa Sunda dan kata ''bakda''yang merupakan serapan dari bahasa Arab.Dimana jika kita alihkan ke dalam bahasa Sunda baku ataupun Jawa baku akan ditemukan ragam kosa kata yang berbeda dengan kalimat diatas.

Dari Wikipedia Bahasa Indonesia,ensiklopedia bebas.

Semoga bermanfaat untuk semuanya,amin.

1 komentar:

  1. Sae kang alhamdullilah seratan Di blog akang susunan kata sareng bahasanya hampir mirip 100% sareng buku peninggalan pun Rama ti Karawang, mudah2an urang sadaya tiasa mulih Ka jati mulang Ka asal,amiin ya Robb

    BalasHapus